Kepekaan

Foto oleh Matthew Montrone di Pexels.com.

Kepekaan itu perlu dilatih. Hanya akan berkembang apabila ada rasa rendah hati, kemauan, dan usaha. Poin terakhir ini sangat menentukan. Eksekusinya. Alias harus mau repot.

Di dalam kerepotan-kerepotan itulah kita akan dipertemukan dengan situasi menuntut kepekaan yang lain. Alhasil kepekaan kita akan cepat meningkat.

Kalau tidak mau repot, agaknya akan susah. Katakanlah, kita merasa ingin membantu orang di jalan yang terlihat kerepotan mendorong motor. Kita berpikir, bannya tidak kempis, mungkin bensinnya habis.

Kita tidak sedang buru-buru dan ada peluang untuk membantu. Tapi repot putar balik karena sudah terlanjur mendahuluinya. Apakah bisa? Bisa. Tapi repot. Alhasil tidak jadi dan hanya berharap semoga ada orang lain yang membantu.

Hal semacam ini kalau dibiarkan akan menurunkan kepekaan. Karena kita akan semakin terbiasa menolak apa yang hati kita isyaratkan.

Padahal hati adalah sumber kepekaan. Ia pemantiknya. Kalau ia sudah terlanjur kaku, semakin mustahil rasanya kita bisa mengembangkan kepekaan kita. Bahayanya, hati yang kaku bisa mendatangkan banyak keburukan.

Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga

Foto oleh Skitterphoto di Pexels.com.

Apel lokal memang paling enak. Apel berwarna semburat merah muda yang manis nan segar itu menemani perbincangan singkat saya dengan ibu petang ini.

Ibu bercerita kalau kemarin beliau berbincang ringan dengan rekan-rekan kerjanya. Sebagai guru, ibu dan rekan-rekannya berbincang seputar siswa dan tugas-tugas di sekolah.

Dalam perbincangan itu, salah satu rekan kerja ibu yang paling akrab dengan ibu, entah dengan sengaja atau tidak, apakah kelepasan atau bukan, mengeluarkan kalimat yang menggores hati ibu.

Sejauh saya mengenal rekan kerja ibu ini sebagai sosok yang spontan, bisa lembut namun bisa galak dengan muridnya, pribadi yang taat beribadah, dan ibu yang bijaksana.

Saya cukup terkejut dengan penuturan ibu terhadap kalimat yang terucap dari rekan kerja ibu yang kami kenal sangat baik itu. Bahkan saat kami terinfeksi virus COVID-19, beliaulah rekan kerja ibu yang pertama memberikan bantuan.

Rasanya tidak mungkin kalimat itu terucap. Ibu saya juga tidak berbuat apa-apa yang mungkin menyinggung beliau sebelumnya.

Tapi begitulah. Kenyataannya itu terjadi. Kalimat itu melesat seperti petir, menyambar tanpa ampun, dan membuat porak poranda.

Oke. Tidak, itu terlalu dramatis.

Sebenarnya ibu saya tidak ambil pusing terhadap kalimat yang terucap itu. Sungguh lebih banyak kebaikan-kebaikan rekan kerja ibu daripada kalimat yang menggores hati itu.

Setiap orang pasti punya kekurangan. Tiada manusia biasa seperti kita tanpa cela. Maka dalam peribahasa, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.”, kata nila itu seyogianya mewakili diri kita sendiri.

Agar kita lebih berhati-hati. Jangan ganti kata nila itu untuk mewakili orang lain, karena akan membuat kita menjadi orang yang lebih mudah melihat kesalahan orang lain dibandingkan kebaikannya.

Ukraina dan Palestina

Foto oleh Drift Shutterbug di Pexels.

Menjelajahi internet di jam istirahat siang ini menghantarkan saya ke sebuah tulisan di media Al Jazeera.

Seorang jurnalis dari Palestina, Mohammed Rafik Mhawesh memaparkan pandangannya mengenai bagaimana dunia memiliki respons berbeda terhadap perang yang terjadi di Ukraina dan Palestina.

Ia memaparkan bagaimana dunia begitu sigap merespons dan memasang badan untuk Ukraina sejak pertama kali tentara Rusia mendarat di Ukraina untuk melakukan okupasi.

Lebih lanjut ia menyoroti berbagai dukungan dari politisi-politisi yang menyeru kepada semua orang untuk bersama-sama mengutuk Rusia atas agresi yang dilakukannya kepada Ukraina.

Salah satu politisi yang menyerukan dukungan kepada Ukraina, lanjutnya, adalah Menlu Israel. Sang Menlu menyatakan bahwa tindakan Rusia adalah pelanggaran serius atas tatanan internasional. Israel disebut siap menawarkan bantuan kemanusiaan kepada Ukraina. Selain itu, Menlu Israel menyatakan bahwa perang bukanlah solusi untuk menyelesaikan konflik.

Mohammed melanjutkan, bagi rakyat Palestina, pernyataan Menlu Israel tersebut merupakan tamparan di wajah, mempertontonkan kemunafikan secara terang-terangan.

Di jalanan Tel Aviv, disebut ribuan orang Israel melakukan long march sambil membawa bendera Ukraina dan menyerukan pembebasan untuk Ukraina.

Sementara itu banyak orang Israel tidak pernah turun ke jalanan dan menyerukan hal yang sama untuk Palestina. Bahkan, ketika warga Palestina menyerukan pembebasan Palestina di Israel, justru berhadapan dengan kebrutalan polisi, atau lebih buruk.

Ia melanjutkan, guncangan yang dialami oleh rakyat Palestina tidak semata-mata hanya disebabkan oleh kemunafikan rakyat dan pejabat Israel. Namun juga disebabkan oleh kemunafikan komunitas global pada umumnya sejak peristiwa invasi di Ukraina.

Garis besarnya, agar tulisan ini tidak terlalu panjang, Mohammed menegaskan, “Kami melawan penindas kami, dan kami mendapatkan cap teroris. Rakyat Ukraina melakukan hal yang sama, dan mereka mendapatkan tepuk tangan atas keberanian mereka.”

Saya merasakan hal ini dan tulisan Mohammed sangat mewakili isi hati saya. Agar utuh, silakan baca tulisan aslinya di Al Jazeera, “What the war in Ukraine taught us, Palestinians”. Untuk berjaga-jaga barangkali tulisan tersebut dihapus, kalian juga dapat mengaksesnya di Archive.org.

Mari kita panjatkan doa terbaik agar seluruh konflik dan peperangan yang ada di dunia ini segera berakhir sehingga tercapai kedamaian semesta yang paripurna.

Terinfeksi Virus COVID-19

Foto oleh Anna Tarazevich di Pexels.

Bapak saya sakit dan sejak 2 pekan lalu beliau dirawat di rumah sakit. Dalam 4 hari saya menunggui bapak di rumah sakit, saya terinfeksi virus COVID-19 bersama ibu saya yang juga menunggui bapak.

Saya tidak tahu pasti bagaimana saya dan ibu terinfeksi virus itu. Ibu saya merasakan gejala lebih awal berupa batuk dan demam. Saya merasakan sakit tenggorokan sehari kemudian, diikuti dengan demam.

Menduga Hanya Radang Tenggorokan

Saya sempat menduga tenggorokan saya sakit karena masakan padang yang saya makan sebelumnya bersama ibu. Masakan itu seperti sudah beberapa kali dipanaskan. Mungkin minyaknya kotor.

Saya sejak kecil sensitif dengan radang tenggorokan. Jadi saat tenggorokan saya sakit, saya langsung mencurigai makanan yang telah saya makan.

Meskipun begitu, kecurigaan terinfeksi virus COVID-19 itu tetap ada karena gejala yang kami alami ini memang agak berbeda dari biasanya. Selain demam dan sakit tenggorokan, badan kami juga terasa lemah dan pegal-pegal.

Di hari pertama saya sakit, saya mengirim surel ke kantor untuk meminta cuti sakit karena demam. Kantor saya punya protokol kalau ada staf yang bergejala COVID-19, kantor melakukan follow-up melalui HRD. Mereka meminta saya untuk berkabar apabila saya melakukan tes SWAB.

Ketahuan Saat Bapak Dirujuk

Bersamaan saya dan ibu sakit, bapak dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Bapak pergi ke rumah sakit rujukan bersama ibu. Ibu meminta saya pulang karena demam saya sedang tinggi sedangkan demam ibu sudah sedikit turun.

Rumah sakit rujukan mengharuskan tes SWAB untuk pasien dan penunggunya. Bapak negatif sedangkan ibu positif. Bapak akhirnya ditunggui oleh pakde saya karena rumah sakit meminta ibu untuk segera pulang dan isolasi mandiri.

Saya bersyukur saat mengetahui bapak negatif, meskipun sedih karena ibu positif. Ibu saya menangis karena tidak bisa menunggui bapak di rumah sakit. Saya lalu bergegas ke klinik untuk tes SWAB untuk memastikan bahwa saya juga positif.

Ya, tidak ada harapan untuk saya negatif. Saat ibu demam lebih awal, saya selalu menemaninya makan dan minum agar beliau semangat. Bahkan kami makan dengan peralatan yang sama. Meminjam istilah Satgas COVID-19, kami kontak erat.

Beristirahatlah Sejenak

Saat klinik menyerahkan hasil tes SWAB saya yang positif, mereka menjelaskan bahwa saya harus isolasi mandiri di rumah. Mereka akan melaporkan data saya ke Puskesmas untuk ditindaklanjuti.

Kami di rumah bertiga. Saya, ibu, dan adik saya. Adik saya tidak mengalami gejala apapun sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bertiga saling menerapkan protokol kesehatan, terutama agar tidak menulari adik. Adik saya juga izin untuk tidak mengikuti pembelajaran di sekolah.

Hari berikutnya tetangga sebelah rumah saya menghubungi saya via WhatsApp. Saya kaget karena kami tidak biasanya chat. Ternyata beliau tergabung menjadi Satgas COVID-19 Puskesmas.

Beliau menanyai kondisi saya beserta riwayat aktivitas saya untuk tracing. Gejala yang saya dan ibu alami termasuk gejala ringan, jadi cukup isolasi mandiri selama 10 hari di rumah. Sejak hari itu berbagai dukungan untuk kami datang.

Saya berkabar ke HRD saya kalau saya positif lalu kantor mengirim termometer dan oksimeter untuk membantu kami mengukur suhu dan saturasi oksigen. Selain itu saya diberi cuti sakit 14 hari, yang artinya tidak ada pemotongan gaji.

Obat, vitamin, berbagai macam suplemen, hingga makanan dan bahan makanan berdatangan dari orang-orang terdekat, tetangga, dan rekan kerja kami. Tidak luput juga mereka selalu memberikan doa dan motivasi terbaik.

Kami sangat bersyukur dan berterima kasih. Dukungan semacam ini menumbuhkan rasa semangat dan membawa atmosfer positif yang memang sedang sangat kami butuhkan.

Setelah melewati hari-hari menjelang bapak harus dirawat di rumah sakit, menunggui selama beberapa hari, dan pikiran-pikiran yang bercabang, jujur kami merasa butuh untuk sejenak beristirahat. Kami memetik hikmah itu dari Allah memberikan COVID-19 ini kepada kami.

Bapak Turut Positif

Kata dokter, sakit bapak butuh penanganan berupa operasi. Meskipun ada risikonya, kata dokter, operasi perlu dilakukan. Dengan kami positif COVID-19 maka kami tidak bisa menunggui bapak saat operasi.

Qadarullah bapak turut positif COVID-19 sehari menjelang bapak dioperasi. Meskipun demikian, alhamdulillah kondisi bapak baik selama hampir sepekan ini positif.

Saat ini kami sudah sembuh. Doa kami semoga bapak segera negatif sehingga agenda operasi segera dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. Mungkin ini karena doa bapak juga, sehingga Allah menjadikan hikmah dari kami bertiga terinfeksi virus COVID-19 agar kami dapat menunggui bapak operasi.

Terinfeksi virus COVID-19 memberikan hikmah. Bapak sakit, juga memberikan hikmah yang pastilah luar biasa. Apa yang saya tulis di sini hanyalah seperseratusnya atau mungkin kurang dari itu, atas keterbatasan berpikir dan menulis saya.

Sungguh, Allah Mahatahu dan Mahabijaksana atas segala sesuatu. Ketika kita mau meresapi apa saja yang kita alami, maka pasti ada hikmah di baliknya.

Mohon doanya kawan. Terutama untuk bapak saya, semoga Allah segera memberikan kesembuhan kepada beliau. Semoga Allah merahmati kalian. Sehat selalu kawan.

Mengganti Keran Rusak

Foto oleh PS Photography di Pexels.

Tagihan air rumah bulan lalu sampai Rp175.000.

Memang akhir-akhir ini penggunaan air di rumah cukup banyak, terlebih untuk mencuci pakaian dan seprai. Selain itu ada satu keran yang sudah rusak, jadi airnya bocor ke mana-mana.

Keran itu sudah dibiarkan rusak cukup lama. Saya belum menggantinya karena satu dan lain hal. Maka agar tagihan air bulan ini tidak semakin membengkak, saya mengganti keran yang sudah rusak itu.

Mengganti keran air tidaklah sulit. Kalau kalian belum pernah melakukannya sendiri, maka tepat sekali kalian ada di sini. Saya akan jelaskan.

Uraian ini hanya berlaku untuk jenis keran air standar, ya. Kalau keran di rumah kalian tipe jungkat-jungkit, dilengkapi dengan pemanas air, atau bahkan otomatis, maka uraian ini mungkin tidak relevan.

Persiapan

Untuk mengganti keran yang rusak, kalian harus menyiapkan keran penggantinya terlebih dahulu. Kalian bisa membelinya di toko bangunan.

Keran air ada ukurannya dan biasanya tertulis di keran. Ukuran yang umum adalah 1/2 (setengah). Insya Allah di rumah kalian ukurannya sama. Kalau ragu, pastikan kalian negosiasi dengan penjual agar bisa menukarnya kalau yang kalian beli ternyata salah ukuran.

Saya biasanya membeli keran bermerek Onda. Agak mahal memang, sekitar Rp35.000 tapi cenderung awet.

Selain keran, kalian harus menyiapkan selotip. Ini berguna untuk melapisi bagian ulir keran yang nantinya dihubungkan ke pipa air agar tidak bocor. Tidak perlu lem karena akan menyulitkan penggantian keran di masa mendatang.

Selotip yang kalian butuhkan cukup 1. Selotip ini khusus ya, tampak seperti gambar di bawah. Harganya sekitar Rp5.000. Selotip ini bisa digunakan berkali-kali.

Foto oleh NA di Wikimedia Commons.

Terakhir, kalian perlu kunci inggris. Ini opsional kalau keran air sulit dilepas.

Eksekusi

Langkah pertama adalah menutup keran pusat di rumah. Kalau kalian bingung, coba tanya ke orang rumah di mana meteran air berada. Keran pusat biasanya ada di dekat meteran air.

Sebenarnya bisa saja tanpa menutup keran pusat. Tapi risikonya kalian akan kesulitan memasang keran karena kuatnya tekanan air.

Selanjutnya, pasang selotip pada keran yang baru.

Keran dipasang ke pipa dengan uliran searah jarum jam. Pastikan kalian memasang selotip secara berlawanan arah jarum jam. Ini bertujuan agar selotip tidak berantakan saat keran dipasang (diulir) ke pipa air. Lapisi ulir keran dengan selotip kira-kira 20 lapis.

Saatnya memasang keran.

Lepas keran lama dengan mengulirnya berlawanan arah jarum jam. Gunakan kunci inggris kalau kalian kesulitan.

Tips! Buka keran saat melepas keran agar air tidak menyemprot karena tekanan air yang masih tersisa di pipa.

Bersihkan juga kotoran atau selotip lama yang menempel di dalam pipa.

Setelah itu, pasang keran yang baru dengan mengulirnya searah jarum jam ke pipa air.

Kalau saat mengulir keran terasa enteng maka kemungkinan selotipnya kurang. Kalian bisa menambah selotip dengan menindih yang sudah ada. Kalau terasa terlalu berat, kurangi selotip.

Evaluasi

Terakhir, saatnya melakukan evaluasi. Jangan lupa untuk membuka keran pusat setelah keran baru terpasang.

Keran yang terpasang dengan baik tidak menyisakan air menetes di sela-sela ulir keran dengan pipa air. Untuk memastikan tidak ada air yang menetes, lap keran terlebih dahulu.

Selesai!

Baik. Sesuai janji, saya akan update tagihan air bulan ini karena sudah tiba. Tagihan bulan ini menunjukkan besaran Rp140.000, turun Rp35.000 atau 20% dari bulan lalu.

Saya tidak bisa menuliskan berapa persisnya volume air yang saya gunakan karena struknya hilang dan tidak saya ingat, tapi penggunaan air bulan ini mirip dengan bulan lalu, jadi memang terdapat penghematan yang cukup banyak.