Kepekaan

Foto oleh Matthew Montrone di Pexels.com.

Kepekaan itu perlu dilatih. Hanya akan berkembang apabila ada rasa rendah hati, kemauan, dan usaha. Poin terakhir ini sangat menentukan. Eksekusinya. Alias harus mau repot.

Di dalam kerepotan-kerepotan itulah kita akan dipertemukan dengan situasi menuntut kepekaan yang lain. Alhasil kepekaan kita akan cepat meningkat.

Kalau tidak mau repot, agaknya akan susah. Katakanlah, kita merasa ingin membantu orang di jalan yang terlihat kerepotan mendorong motor. Kita berpikir, bannya tidak kempis, mungkin bensinnya habis.

Kita tidak sedang buru-buru dan ada peluang untuk membantu. Tapi repot putar balik karena sudah terlanjur mendahuluinya. Apakah bisa? Bisa. Tapi repot. Alhasil tidak jadi dan hanya berharap semoga ada orang lain yang membantu.

Hal semacam ini kalau dibiarkan akan menurunkan kepekaan. Karena kita akan semakin terbiasa menolak apa yang hati kita isyaratkan.

Padahal hati adalah sumber kepekaan. Ia pemantiknya. Kalau ia sudah terlanjur kaku, semakin mustahil rasanya kita bisa mengembangkan kepekaan kita. Bahayanya, hati yang kaku bisa mendatangkan banyak keburukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s