Keluarga

Foto oleh Binyamin Mellish di Pexels.com.

Saya mendengarkan lagu Harta Berharga untuk pertama kali secara utuh melalui film Keluarga Cemara beberapa tahun lalu. Film dan lirik lagu yang apik membuat saya hanyut dalam haru.

Begitu pula bapak, ketika pulang dari rumah sakit sekitar dua bulan yang lalu. Saat sudah sembuh dari COVID-19, ternyata bapak tidak bisa langsung melanjutkan agenda operasi yang sebelumnya sudah hendak dilakukan.

Kata dokter, bapak harus pulang dulu sambil rawat jalan untuk pemulihan kondisi setelah lama berada di rumah sakit. Saya haru bercampur sedih saat bapak pulang. Haru karena akhirnya bapak bisa berkumpul dengan kami semua, sedih karena kondisi bapak yang semakin kurus.

Saya meluapkan rasa rindu saya dengan bapak. Saya ingin beliau tahu bahwa kami semua sangat merindukannya di rumah. Saat itu saya nyanyikan lagu itu kepada bapak sambil tersedu-sedu. Terlihat mata bapak berkaca-kaca, lalu saya berhenti bernyanyi. Saya tahu, bapak tidak ingin terlihat sedih.

Keluarga adalah segalanya. Apa lagi dari kacamata seorang ayah. Ia adalah nakhoda dari bahtera yang berlayar mengarungi lautan luas dengan segala halang rintang menyertai. Ia bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kebahagiaan semua orang yang dipimpinnya.

Karena itu, semasa bapak sakit, pastilah berkecamuk segala perasaan di hatinya. Namun biar bagaimana pun, manusia hanya bisa berdoa dan berusaha. Qadarullah, bapak berpulang menghadap Allah SWT tiga pekan yang lalu, sepekan menjelang Idulfitri. Mohon doanya untuk bapak saya, kawan…

Hari ini, saya menemukan mini series dari kanal YouTube milik Toyota Indonesia bertema keluarga. Judulnya, Perjalanan Terbaik Sepanjang Masa. Film ini bagus sekali. Kawan-kawan yang sudah menjadi ayah, atau seperti saya yang kelak insya Allah juga akan menjadi seorang ayah, rasanya wajib menonton.

Untuk mencegah berkurangnya nikmat saat menonton, saya tidak akan ceritakan di sini. Namun, poinnya adalah kebersamaan dengan keluarga. Keutuhan keluarga. Saya yakin kalian sudah bisa menebaknya. Itu semua adalah kemewahan, harta, yang sungguh tak ternilai.

Baik, sekian dulu. Sampai jumpa di tulisan berikutnya kawan, semoga kalian selalu dalam keadaan baik, berkah rezeki, dan penuh rasa syukur. Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin…

Terinfeksi Virus COVID-19

Foto oleh Anna Tarazevich di Pexels.

Bapak saya sakit dan sejak 2 pekan lalu beliau dirawat di rumah sakit. Dalam 4 hari saya menunggui bapak di rumah sakit, saya terinfeksi virus COVID-19 bersama ibu saya yang juga menunggui bapak.

Saya tidak tahu pasti bagaimana saya dan ibu terinfeksi virus itu. Ibu saya merasakan gejala lebih awal berupa batuk dan demam. Saya merasakan sakit tenggorokan sehari kemudian, diikuti dengan demam.

Menduga Hanya Radang Tenggorokan

Saya sempat menduga tenggorokan saya sakit karena masakan padang yang saya makan sebelumnya bersama ibu. Masakan itu seperti sudah beberapa kali dipanaskan. Mungkin minyaknya kotor.

Saya sejak kecil sensitif dengan radang tenggorokan. Jadi saat tenggorokan saya sakit, saya langsung mencurigai makanan yang telah saya makan.

Meskipun begitu, kecurigaan terinfeksi virus COVID-19 itu tetap ada karena gejala yang kami alami ini memang agak berbeda dari biasanya. Selain demam dan sakit tenggorokan, badan kami juga terasa lemah dan pegal-pegal.

Di hari pertama saya sakit, saya mengirim surel ke kantor untuk meminta cuti sakit karena demam. Kantor saya punya protokol kalau ada staf yang bergejala COVID-19, kantor melakukan follow-up melalui HRD. Mereka meminta saya untuk berkabar apabila saya melakukan tes SWAB.

Ketahuan Saat Bapak Dirujuk

Bersamaan saya dan ibu sakit, bapak dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Bapak pergi ke rumah sakit rujukan bersama ibu. Ibu meminta saya pulang karena demam saya sedang tinggi sedangkan demam ibu sudah sedikit turun.

Rumah sakit rujukan mengharuskan tes SWAB untuk pasien dan penunggunya. Bapak negatif sedangkan ibu positif. Bapak akhirnya ditunggui oleh pakde saya karena rumah sakit meminta ibu untuk segera pulang dan isolasi mandiri.

Saya bersyukur saat mengetahui bapak negatif, meskipun sedih karena ibu positif. Ibu saya menangis karena tidak bisa menunggui bapak di rumah sakit. Saya lalu bergegas ke klinik untuk tes SWAB untuk memastikan bahwa saya juga positif.

Ya, tidak ada harapan untuk saya negatif. Saat ibu demam lebih awal, saya selalu menemaninya makan dan minum agar beliau semangat. Bahkan kami makan dengan peralatan yang sama. Meminjam istilah Satgas COVID-19, kami kontak erat.

Beristirahatlah Sejenak

Saat klinik menyerahkan hasil tes SWAB saya yang positif, mereka menjelaskan bahwa saya harus isolasi mandiri di rumah. Mereka akan melaporkan data saya ke Puskesmas untuk ditindaklanjuti.

Kami di rumah bertiga. Saya, ibu, dan adik saya. Adik saya tidak mengalami gejala apapun sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bertiga saling menerapkan protokol kesehatan, terutama agar tidak menulari adik. Adik saya juga izin untuk tidak mengikuti pembelajaran di sekolah.

Hari berikutnya tetangga sebelah rumah saya menghubungi saya via WhatsApp. Saya kaget karena kami tidak biasanya chat. Ternyata beliau tergabung menjadi Satgas COVID-19 Puskesmas.

Beliau menanyai kondisi saya beserta riwayat aktivitas saya untuk tracing. Gejala yang saya dan ibu alami termasuk gejala ringan, jadi cukup isolasi mandiri selama 10 hari di rumah. Sejak hari itu berbagai dukungan untuk kami datang.

Saya berkabar ke HRD saya kalau saya positif lalu kantor mengirim termometer dan oksimeter untuk membantu kami mengukur suhu dan saturasi oksigen. Selain itu saya diberi cuti sakit 14 hari, yang artinya tidak ada pemotongan gaji.

Obat, vitamin, berbagai macam suplemen, hingga makanan dan bahan makanan berdatangan dari orang-orang terdekat, tetangga, dan rekan kerja kami. Tidak luput juga mereka selalu memberikan doa dan motivasi terbaik.

Kami sangat bersyukur dan berterima kasih. Dukungan semacam ini menumbuhkan rasa semangat dan membawa atmosfer positif yang memang sedang sangat kami butuhkan.

Setelah melewati hari-hari menjelang bapak harus dirawat di rumah sakit, menunggui selama beberapa hari, dan pikiran-pikiran yang bercabang, jujur kami merasa butuh untuk sejenak beristirahat. Kami memetik hikmah itu dari Allah memberikan COVID-19 ini kepada kami.

Bapak Turut Positif

Kata dokter, sakit bapak butuh penanganan berupa operasi. Meskipun ada risikonya, kata dokter, operasi perlu dilakukan. Dengan kami positif COVID-19 maka kami tidak bisa menunggui bapak saat operasi.

Qadarullah bapak turut positif COVID-19 sehari menjelang bapak dioperasi. Meskipun demikian, alhamdulillah kondisi bapak baik selama hampir sepekan ini positif.

Saat ini kami sudah sembuh. Doa kami semoga bapak segera negatif sehingga agenda operasi segera dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. Mungkin ini karena doa bapak juga, sehingga Allah menjadikan hikmah dari kami bertiga terinfeksi virus COVID-19 agar kami dapat menunggui bapak operasi.

Terinfeksi virus COVID-19 memberikan hikmah. Bapak sakit, juga memberikan hikmah yang pastilah luar biasa. Apa yang saya tulis di sini hanyalah seperseratusnya atau mungkin kurang dari itu, atas keterbatasan berpikir dan menulis saya.

Sungguh, Allah Mahatahu dan Mahabijaksana atas segala sesuatu. Ketika kita mau meresapi apa saja yang kita alami, maka pasti ada hikmah di baliknya.

Mohon doanya kawan. Terutama untuk bapak saya, semoga Allah segera memberikan kesembuhan kepada beliau. Semoga Allah merahmati kalian. Sehat selalu kawan.